Strategi Komunikasi Antarbudaya di Era Kecerdasan Buatan: Studi Eksplorasi Penggunaan AI Generatif dalam Negosiasi Bisnis Lintas Negara
DOI:
https://doi.org/10.64365/murabah.v2i3.507Keywords:
komunikasi antarbudaya, kecerdasan buatan generatif, negosiasi bisnis, strategi komunikasi, lintas negaraAbstract
Era kecerdasan buatan (AI) telah membawa transformasi signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk komunikasi antarbudaya dalam konteks bisnis internasional. AI generatif, seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude, semakin banyak digunakan sebagai alat bantu dalam negosiasi bisnis lintas negara, menawarkan kemampuan untuk menerjemahkan, menjembatani perbedaan budaya, dan menghasilkan strategi komunikasi yang adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana AI generatif digunakan dalam negosiasi bisnis lintas budaya, serta mengidentifikasi strategi komunikasi antarbudaya yang muncul dari penggunaan teknologi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan desain studi kasus multi-situs, melibatkan 20 partisipan dari berbagai sektor bisnis di Indonesia yang memiliki pengalaman menggunakan AI generatif dalam negosiasi internasional. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Data dianalisis menggunakan analisis tematik dengan bantuan perangkat lunak NVivo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI generatif digunakan dalam negosiasi lintas budaya melalui tiga peran utama: (1) sebagai penerjemah budaya (cultural translator) yang menjembatani perbedaan bahasa dan nilai budaya; (2) sebagai asisten strategis (strategic assistant) yang membantu menyusun argumen, mengantisipasi respons lawan bicara, dan merancang strategi negosiasi; dan (3) sebagai fasilitator adaptasi (adaptation facilitator) yang membantu menyesuaikan gaya komunikasi dengan norma budaya mitra negosiasi. Namun, penggunaan AI generatif juga menghadapi tantangan seperti keterbatasan pemahaman konteks budaya yang mendalam, risiko misinterpretasi, ketergantungan berlebihan pada teknologi, dan isu etika terkait privasi dan keaslian. Penelitian ini mengidentifikasi lima strategi komunikasi antarbudaya yang muncul dari penggunaan AI generatif: (1) strategi hibridisasi budaya—memadukan pendekatan lokal dan global; (2) strategi personalisasi digital menyesuaikan komunikasi dengan preferensi mitra; (3) strategi pembelajaran berkelanjutan menggunakan AI sebagai alat belajar budaya; (4) strategi mitigasi risiko menggunakan AI untuk mengantisipasi konflik budaya; dan (5) strategi human-in-the-loop menjaga kendali manusia dalam proses negosiasi. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori komunikasi antarbudaya di era digital dan memberikan rekomendasi praktis bagi praktisi bisnis, pengembang teknologi, dan akademisi dalam mengoptimalkan penggunaan AI generatif untuk negosiasi bisnis lintas negara.
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 MUARA BAHASA : Jurnal Ilmiah Ilmu Bahasa & Komunikasi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



