Filsafat Bahasa dan Perubahan Makna di Era Budaya Digital: Analisis Penggunaan Emoji dan Kode Hibrida pada Remaja
DOI:
https://doi.org/10.64365/murabah.v2i3.360Keywords:
filsafat bahasa, perubahan makna, emoji, kode hibrida, remaja, budaya digital.Abstract
Era budaya digital telah melahirkan bentuk komunikasi baru yang tidak hanya mengandalkan teks verbal, tetapi juga simbol-simbol visual seperti emoji dan kode hibrida (misalnya: gabungan huruf, angka, dan tanda baca). Fenomena ini secara signifikan mengubah cara remaja memaknai bahasa dalam interaksi sehari-hari di ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan makna dalam perspektif filsafat bahasa, khususnya teori tindak tutur dan makna kontekstual, serta bagaimana emoji dan kode hibrida berperan sebagai tanda (sign) yang dinamis. Metode yang digunakan adalah analisis wacana digital terhadap percakapan remaja di platform media sosial seperti WhatsApp, Instagram, dan TikTok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emoji tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap emosi, tetapi juga dapat mengubah atau membatalkan makna literal dari pernyataan verbal. Kode hibrida, seperti "g2g" atau "5" (kode angka), menciptakan sistem semiotik baru yang efisien namun multitafsir. Perubahan makna ini menunjukkan adanya pergeseran dari makna referensial ke makna pragmatis yang sangat tergantung pada konteks dan budaya komunitas digital. Kesimpulannya, filsafat bahasa perlu memperluas konsep makna dan referensi untuk mengakomodasi realitas komunikasi digital yang hibrida, terutama pada generasi remaja sebagai pengguna utama.
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 MUARA BAHASA : Jurnal Ilmiah Ilmu Bahasa & Komunikasi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



