Studi Lintas Budaya tentang Isyarat Dengar (Backchannel) dalam Percakapan Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah
DOI:
https://doi.org/10.64365/murabah.v2i2.270Keywords:
isyarat dengar (backchannel), lintas budaya, bahasa Indonesia, analisis percakapan, komunikasi non-verbalAbstract
Penelitian ini merupakan studi lintas budaya yang mengkaji penggunaan isyarat dengar (backchannel) dalam percakapan bahasa Indonesia dan membandingkannya dengan potensi praktik serupa dalam konteks bahasa daerah. Isyarat dengar, seperti anggukan, "ya", atau "mm", merupakan respons pendengar yang esensial untuk kelancaran interaksi tanpa mengambil alih giliran bicara. Meskipun bersifat universal, bentuk, frekuensi, dan fungsi isyarat dengar sangat bervariasi antar budaya .Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan tipe, fungsi, dan frekuensi isyarat dengar yang digunakan oleh penutur bahasa Indonesia serta mengidentifikasi kemungkinan variasi lintas budaya dengan bahasa daerah. Metode yang digunakan adalah analisis percakapan (conversation analysis) pada data interaksi alami, dengan fokus pada isyarat dengar verbal dan non-verbal . Temuan dari penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penutur asli bahasa Indonesia cenderung lebih sering menggunakan isyarat dengar non-verbal, terutama anggukan kepala (sekitar 42%), diikuti oleh ekspresi wajah seperti senyum dan tawa . Isyarat verbal seperti "ya", "oh", atau "hmm" juga digunakan, tetapi frekuensinya lebih rendah . Fungsi utama isyarat ini adalah untuk menunjukkan perhatian, pemahaman, dan persetujuan terhadap penutur .Namun, penelitian yang secara spesifik membandingkan isyarat dengar dalam bahasa Indonesia dengan bahasa daerah tertentu masih sangat terbatas. Padahal, perbedaan norma budaya dalam berkomunikasi berpotensi memunculkan variasi yang signifikan. Studi komparatif dengan penutur bahasa Jepang, misalnya, menunjukkan adanya perbedaan fungsi isyarat dengar, di mana penutur Jepang lebih banyak menggunakannya sebagai tanda perhatian di tengah tuturan, sementara pembelajar dari Indonesia lebih bervariasi fungsinya . Hal ini mengindikasikan bahwa latar belakang bahasa pertama dapat memengaruhi perilaku isyarat dengar.Oleh karena itu, penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam tentang peran pendengar dalam komunikasi bahasa Indonesia serta membuka wawasan tentang pentingnya kajian lintas budaya dengan bahasa daerah. Hasilnya diharapkan dapat memperkaya studi sosiolinguistik dan pragmatik, serta meningkatkan kesadaran akan potensi perbedaan komunikasi di era globalisasi
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 MUARA BAHASA : Jurnal Ilmiah Ilmu Bahasa & Komunikasi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



