Daya Saing Sektoral Dan Perubahan Struktural Dalam Manufaktur Indonesia: Perspektif Pergeseran Pangsa Pasar

Authors

  • Oky Bisma Thama Putra Universitas Indonesia Mandiri Author
  • Sigit Apriyanto Universitas Indonesia Mandiri Author
  • Della Hassiba Dayanara Universitas Indonesia Mandiri Author
  • Asep Supriatna Universitas Indonesia Mandiri Author

DOI:

https://doi.org/10.64365/muaratek.v2i1.674

Keywords:

analisis shift-share, daya saing sektoral, dinamika subsektor, perubahan struktur manufaktur, transformasi industri

Abstract

Penelitian ini menganalisis perubahan struktur dan daya saing sektoral manufaktur Indonesia periode 2008–2022 menggunakan pendekatan analisis shift-share. Tujuan penelitian meliputi identifikasi subsektor yang mengalami pergeseran struktural positif dan negatif, pengukuran pengaruh output industri terhadap penyerapan tenaga kerja, perbandingan pola output-employment antar subsektor dengan karakteristik teknologi berbeda, serta perumusan rekomendasi kebijakan berbasis bukti. Dengan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai nilai tambah dan tenaga kerja pada 24 subsektor KBLI dua digit, penelitian ini mendekomposisi pertumbuhan subsektor menjadi efek nasional, struktur industri, dan efek daya saing. Hasil menunjukkan transformasi struktural yang signifikan dengan meningkatnya pangsa subsektor logam dasar, kimia, makanan, dan kendaraan bermotor, sementara subsektor padat karya tradisional seperti tekstil, kayu, dan furnitur mengalami penurunan daya saing. Subsektor makanan menunjukkan penguatan paling konsisten dengan peningkatan pangsa dari 16,23% menjadi 21,97%, sedangkan logam dasar mencatat pertumbuhan kumulatif tertinggi sebesar 919%. Klasifikasi shift-share mengidentifikasi empat subsektor rising star (makanan, kimia, logam dasar, kendaraan bermotor) dengan efek kompetitif positif, beberapa subsektor stabil, subsektor lagging (tekstil, kayu, furnitur), serta subsektor declining (percetakan dan industri tradisional). Krisis COVID-19 tahun 2020 berdampak berbeda antar subsektor, dengan makanan dan kimia menunjukkan resiliensi lebih tinggi. Temuan menegaskan bahwa perubahan struktur manufaktur Indonesia tidak merata, dengan peningkatan menuju industri bernilai tambah lebih tinggi yang disertai kesenjangan daya saing persisten. Implikasi kebijakan meliputi penguatan subsektor rising star melalui insentif investasi dan hilirisasi, serta modernisasi teknologi dan peningkatan produktivitas bagi subsektor lagging untuk memastikan transformasi industri yang inklusif dan berkelanjutan.

Downloads

Published

2024-01-10